Filosofi Kesatrian IPDN dan Kumpulan Foto Kampus IPDN

 Info Umum

Wow, sambil mlongo aku lihat saja sosok gerbang yang benar- benar belum pernah terlintas di pikiranku. Kata “megah” itu belum cukup untuk menggambarkan perasaanku melihat bangunan raksasa yang menjulang ke langit. Dalam hati berkata “Gerbangnya saja sebesar ini, apalagi dalamnya, kayak apa ya”, belum lagi diskripsi tentang senior- senior ganas yang masih kental di fikiranku. Senang,deg- deg an, takut, ngeri, ragu- ragu, menjalani pantukir pusat di Kesatrian (kampus) IPDN Jatinangor 2009.

Bismillahhirrahmanirrahim, Assalamualaikum (macam ada penghuninya saja),,,,lantunan spontan namun pelan saat pertama kali aku ucapkan tatkala langkah kaki mulai melintasi gerbang raksasa itu diiringi teriakan senior yang agaknya kurang bersahabat, “Semut putih (panggilan calon praja yang melaksanakan pantukhir, karena capra masih memakai baju kemeja putih), cepat angkat tas kalian, jalan jongkok sampai Balairung Jend. Rudini!”. Ya Allah, mimpi apa kemarin. Jauh – jauh perjalanan dari Jawa Timur, badan masih pegal- pegal gini, bukannya disambut hangat.

Hanya tulisan “Siapkan Mental Dan Fisik Anda, Ragu- Ragu Kembali” terpampang besar yang senantiasa menyambut kedatangan Capra IPDN. Tapi kayaknya gak ada istilah ragu- ragu kembali,justru kalau ragu- ragu, di sini gak akan bisa kembali, lawong gak punya ongkos (uang dibatasi) untuk balik ke jatim, dijaga ketat, gimana bisa kabur.

Hanya dapat pasrah meratapi nasib, mimpi baik atau buruk masuk di Kesatrian ini. Bicara masalah penyambutan yang kurang bersahabat dll, mestinya itu merupakan hal yang sangat wajar melihat filosofi kampus yang telah dibuat sedemikian rupa oleh perancang yang benar- benar mencerminkan nilai- nilai sulitnya perjuangan bangsa Indonesia. Mempersiapkan kader aparaturnya memahami arti konstruksi setiap bangunan untuk bangkit dan berkarya, membangkitkan nilai-nilai luhur Nusantara, yang tertuang di dalam Pancasila yang merupakan representasi dari nilai-nilai luhur budaya Indonesia.

Konon kesatrian ini adalah bekas tempat terjadinya pemberontakan dari serangan DI/TII (Negara Islam Indonesia) terhadap Negara Indonesia yang baru saja merdeka pada waktu itu. Apa itu DI/TII? Cari sendiri di mbah google ya. Karena telah terjadi pertumpahan darah, wajar bila banyak cerita- cerita dari masyarakat maupun pendahulu tentang keanehan, mitos dan cerita- cerita yang berbau mistis (angker maksudnya, masak gak tau sih). Tapi yang mistik- mistik itu tidak masuk dalam bahasan filosofi ya, langsung saja masuk pada inti perbincangan kita.

awal pembangunan ipdn

foto pada saat pembangunan

foto kampus pdn

foto patung di kampus ipdn

kampus ipdn jatinangor

patung di kampus ipdn

Biaya untuk membangun gerbang ini sampai 2 milyar, berbentuk kerucut yang dibelah menjadi 4 bagian. Di tengah- tengah bangunan ini terdapat patung praja dan wanita praja. Mahalnya cost untuk membangun gerbang ini bukan tanpa arti, bangunan berbentuk kerucut ini melambangkan gunung yang di dalamnya terdapat kawah panas yang membara, menggambarkan layaknya legenda ramayana Gatutkaca yang pernah digodok dalam kawah candradimuka hingga melahirkan sosok ksatria yang kuat, berjiwa besar, berpegang teguh pada prinsip, menolong sesama, dan berani membela kebenaran sehingga tempat ini disebut KESATRIAN (tempat para ksatria), bukan dengan sebutan kampus.

Jadi dari awal ketika saya menginjakkan kaki di kesatrian ini, sudah diperingatkan bahwa di sini bukan tempat untuk bermanja- manja, bermain, berenjoy- enjoy melainkan harus siap digembleng, ditempa, digodok, melepaskan atribut sebagai anak bupati, gubernur bahkan jendral sekalipun untuk menjadi sosok Satrio Piningit, para kader aparatur negara yang diharapkan menjadi birokrat dan negarawan di masa yang akan datang. Namanya digodok, tentu panas, melelahkan, sakit, tidak semua bisa bertahan, dan tentu bukan merupakan tempat yang nyaman di bumi ini. Yang awal- awalnya saat masih duduk di bangku SMA masih culun, gagap, banci, jalan kaya putri solo, pengecut, penakut, mental tempe, krempeng, gak berbentuk layaknya kucing kelaparan, setelah mengalami proses di sini,keluar gerbang wajib berubah menjadi Singa yang buas tapi baik hati (emang ada ya singa kayak gituan).

Gunung Manglayang

Gunung Manglayang

TAMPAK PUNCAK MANGLAYANG DARI DEPAN

Puncaknya bisa disaksikan dengn jelas tatkala kita berdiri di depan gerbang . Jadi seakan- akan kesatrian ini berkiblat ke arah gunung manglayang, karena masih berada di area pegunungan maka kesatrian ini memiliki kemiringan 10- 15 derajat sekaligus merupakan keunikan tersendiri yang menjadikan kampus ini pernah menyandang gelar sebagai kampus termegah se Asia Tenggara.

Bagi yang tidak terbiasa olah raga, dipersilahkan berjalan saja (gak usah lari) memutari 1 ksatrain, pasti encok, reumatik  pege linunya kumat. Karena terletak di kaki Manglayang, maka Kesatrian IPDN sering disebut kawah candra dimuka Lembah Manglayang. Ketinggian Manglayang sekitar 1800 mdpl ini sering digunakan oleh praja dalam berbagai wahana kegiatan, salah satunya agenda Pembaretan (Pengambilan Baret)  dan pengambilan Lencana Korps Praja setiap tahunnya.

Puncak aslinya terletak di belakang puncak bayangan yang tampak pada gambar, ketika ditarik garis lurus, maka akan menunjukkan sejajar dari gerbang sampai puncak manglayang. Filosofinya adalah Praja harus mempunyai cita- cita yang tinggi dan harus dapat mencapai puncak dari apa yang menjadi harapan dan amanat negara.

Kesatrian Berbentuk Pena

Kesatrian Berbentuk Pena

Bila dilihat dari satelit maka akan tampak seperti gambar berikut. Kesatrian seluas 280 hektar ini memang sudah dirancang sedemikian rupa, menggambarkan senjata seorang pamong dalam bertugas adalah pena dalam artian melalui kebijakan, keberanian untuk menetapkan keputusan dan cerdas dalam memecahkan persoalan yang dihadapi. Melihat kondisi sekarang, musuh kita tidak menjajah dengan fisik, senapan dan sebagainya melainkan dengan belenggu ekonomi, moral, diplomasi, budaya, gaya hidup yang sudah tidak sesuai dengan ideologi kita. Maka filosofi pena di sini adalah tugas pokok Praja adalah belajar, menuntut ilmu setinggi- tingginya tentang berbagai macam kebutuhan negara baik di masa sekarang maupun masa depan. Sistem pendidikan di IPDN terdiri dari 3 aspek, yaitu pengajaran, pelatihan dan pengasuhan.

Aspek pengajaran yaitu transfer knowledge, seperti halnya perkuliahan di universitas lain. Materi yang dipelajari mencakup segala macam aspek pendukung pemerintahan mulai dari ekonomi, keuangan, politik, kebijakan dll dengan prinsip generalis bukan specialis dengan harapan praja mengetahui segala aspek pemerintahan dan siap ditempatkan dalam segala bidang pemerintahan.

Aspek Pelatihan yaitu transfer skill. Selain tau teori, Praja harus ahli dalam prakteknya.

Aspek Pengasuhan yaitu penanaman sikap kepamongan mulai dari loyal, disiplin, respect, sigap, tanggap, berani, jujur, kepemimpinan ASTHA BRATA, kerapian performance dan berdedikasi. Semua unsur tadi mendapat penilaian dari pihak pengasuh/ pembina. Terdapat reward untuk yang berprestasi dan punishment yang mendidik bagi Praja yang melakukan kesalahan.

Ketiga aspek tadi masing- masing memiliki nilai dan setiap semester nilai tadi diterbitkan. Total dari SKS yang harus ditempuh praja selama 4 tahun adalah 254 SKS. Melihat bobroknya mental oknum pejabat di Indonesia, banyak yang pintar tapi tidak tau arah, diharapkan Praja bisa menciptakan pembaharuan dalam birokrasi, berpegang teguh pada prinsip prinsip tidak hanya pintar tapi terlebih mempunyai sikap dan akhlak yang baik.

Pohon dan Bendera Serba Berjumlah 17 di Sekitar Lapangan Parade

Kenapa 17?…Pasti semua dapat menebak,,,,,,ya anda betul sekali. Angka keramat yang menunjukkan tanggal kemerdekaan Negara Indonesia.

Kelapa Sawit Yang Tertanam di Sekitar Jalan Protokol dan Anak Tangga

Berjumlah 45 buah tertanam rapi dan rindang sebagai peneduh bagi siapa saja yang berjalan di bawah naungannya. Dan jumlah anak tangga di seluruh kesatrian IPDN berjumlah 1945 buah. Siapa yang mau membuktikan, dengan senang hati silakan hitung mulai dari jumlah anak tangga semua barak, Set Bawah, Tangga Seribu, Gedung Nusantara dan Balairung.

Pohon Cemara di Plasa Mensa

Karena bulan kemerdekaan kita adalah Agustus, tentu jumlahnya ada 8 buah. Jadi kalau digabung mulai dari bendera, kelapa sawit, anak tangga dan pohon pinus, menunjukkan hari proklamasi Indonesia yang sangat bersejarah yaitu 17 Agustus 1945.

Bhineka Nara Eka Bhakti

Bhineka yang berarti keanekaragaman, terbukti dengan hadirnya berbagai macam suku etnis, budaya, agama, warna kulit dari sabang sampai merauke bisa ditemui di IPDN. Hampir setiap putra daerah perwakilan  kabupaten se Indonesia ada, mulai dari abang, mas, uni, mbakyu, mpok, akang, kakak, daeng lengkaplah sudah. Kita akan tau kemajemukan, watak, sifat dan keunikan rekan- rekan se Indonesia.

Maka bisa dikatakan miniaturnya Indonesia adalah IPDN, mana ada kampus di Indonesia selengkap ini hayo, inilah lem perekat bangsa, diharapkan nantinya ketika Praja bertugas, bisa menjadi pelopor garda terdepan dalam rangka menjaga keutuhan NKRI bersama Taruna Akabri dan Akpol, peningkatan nasionalisme dan merekatkan kembali sendi- sendi kelemahan di daerahnya yang merupakan titik pecahnya persatuan dan kesatuan. Kalau ingin belajar memimpin Indonesia, bisa di implementasikan di kampus ini, tidak semua sejalan dengan pemikiran kita, kadang ribet juga. Lawong sesama suku saja masih sering terjadi salah faham, apalagi memimpin orang yang memiliki latar belakang berbeda. Maka dari itu, tidah mudah bisa memimpin Indonesia tapi tidak ada yang tidak mungkin. Keberagaman bukanlah merupakan suatu kelemahan, tapi harus dapat dijadikan suatu power bagi bangsa ini. Maka semboyan “Bhineka nara eka Bhakti” mempunyai filosofi keaneka ragaman, tapi satu pengabdian untuk Indonesia.

Abdi Praja, Dharma Satya, Nagara Bhakti

Tulisan semboyan ini terpampang jelas dan besar di samping kanan kiri lapangan parade. Setiap praja harus tulus mengabdi, dengan ikhlas menyerahkan jiwa raganya untuk setia dan berbakti kepada negara Indonesia.

Lapangan Parade

Rumputnya memang kualitas 1, tapi jangan salah, ini bukan lapangan sepak bola melainkan tempat yang sakral untuk menanamkan, memupuk dan pembinaan mental, fisik, kejuangan dan kebangsaan. Lapangan parade ini biasa digunakan untuk upacara, peringatan hari besar, penyambutan tamu negara dan apel – apel tertentu. Hijau rumput ini menjadi saksi bisu tangis haru para lulusan IPDN saat dilantik Presiden RI dari masa ke masa menjadi Pamong Praja Muda.

Tangga Seribu

Membentang dari Lapangan Parade hingga gedung nusantara. Tapi tangga ini bukan untuk dilewati karena terdapat filosofi nilai perjuangan bangsa Indonesia yang harus dihormati. Ada doktrin dari senior, “Bila kamu melewati tangga ini satu langkah, maka kamu harus mundur 2 langkah”. Intinya tangga ini dibuat bukan untuk dilewati melainkan tempat sakral yang mengingatkan tentang bagaimana sulitnya merebut kemerdekaan. Tepat di samping tangga ini terdapat kelas di mana nama- nama kelas adalah mencerminkan nama kerajaan se Indonesia yang berusaha menyatukan seluruh bagian di Indonesia dan berjuang melawan penjajahan. Mulai nama kerajaan besar Majapahit, Mataram, Sriwijawa, Padjajaran, Kutai, Kediri, Demak sampai kerajaan kecil seperti Kutamaya, Bone, Trenggano dll. Kelas ini berjajar mengiringi tangga seribu sampai atas menuju gedung nusantara sebagai puncaknya. Sehingga mengandung maksud kemerdekaan Indonesia ini melalui perjuangan yang sangat panjang, lama, penuh penderitaan, kesengsaraan rakyat, dan tidak mudah. Perlawanan terhadap penjajah dari berbagai penjuru daerah dan kerajaan hingga akhirnya tercapailah cita- cita leluhur kita, satu kesatuan yaitu “Nusantara”.

Nama Barak adalah “Nusantara”

Terdapat 33 barak (asrama) sebagai tempat tinggal Praja. Untuk membedakan barak satu dengan lainnya diberi nama Nusantara 1 – Nusantara 33. Dalam satu barak diacak dan terdapat perwakilan tiap provinsi se Indonesia sehingga diharapkan terjadi integrasi, bisa memahami karakter, sifat, watak dan perilaku budaya di Indonesia. Proses Integrasi ini tidaklah mudah, kalau hanya kenalan semua pasti bisa. Tapi kalau sampai pada tahap memahami, saling menolong, Ambeg Paramaarta (mendahulukan kepentingan umum di atas pribadi)  memerlukan proses dan waktu. Maka selalu ditanamkan yang dinamakan korsa (satu sepenanggungan) agar terjadi kesatuan dan rasa saling memiliki antar sesama.

Wah sudah lumayan banyak nulisnya, pegel juga tangan, otaknya juga sih. Bagi pembaca, sebenarnya masih banyak tempat sakral penuh filosofi lainnya yang menjadi harapan dari perancang untuk Praja yang menjalani pendidikan di Kesatrian Lembah Manglayang ini. Dibangun pada tahun 1988 oleh gagasan Jendral Rudini yang ingin menyatukan APDN yang tersebar di seluruh nusantara. Tapi siapa perancang kemegahan kesatrian ini,,,,,,,?yak anda salah,,,,tunggu di episode berikutnya.

SATU NUSA SATU BANGSA SATU BAHASA

“INDONESIA”

BHINEKA NARA EKA BHAKTI

“PRAJA”

Artikel ini dibuat oleh Mulia Darmawan

Author: 

Anhar Wahyu is The Founder of  Soal Tes IPDN He is also Founder of Lintas Berita and Buku TNI POLRI He started blogging in 2009 at Blog UMY. He stay at Yogyakarta, You can connect him via His Google+ account or Facebook.

No Responses

Leave a Reply